Senin, 17 April 2017

FF Indonesia : EXODUS Chapter 3




EXODUS
Author : Shin Yoon Ah
Lenght : Chapter
Genre : Romance, Action
Cast : Kim Jeon Myon, Irene (RV), Huang Zi Tao


“Irene imnida.” Ucap gadis mungil itu.
“Ne. Irene-sshi, silahkan lewat sini. Naiki tangga lalu belok ke kanan. Di depan pintu akan tertera nama Detektif Kim Joon Myeon.” Ucap Seo Yeon setelah menuliskan nama Irene di buku tamu.
“Detektif Huang, apa yang kau pikirkan? Dia sangat cantik ya?” Ucap Seo Yeon ketika Irene telah berlalu meninggalkan mereka.
“Ya, dia memang cantik. Tapi di mataku kau lebih cantik, Nona Yoon. Hanya saja bukan itu yang aku pikirkan.” Ucap Tao membuat muka Seo Yeon memerah.
“Geureso?”
“Dia terlihat familier di mataku. Sepertinya aku pernah bertemu dengannya atau seseorang seperti dia di suatu tempat.” Tao memandang ke arah Irene pergi.
Irene menaiki tangga seperti instruksi wanita di meja resepsionis yang memakai name tag bertuliskan “Yoon Seo Yeon”.  Setelah menaiki tangga ia berjalan ke arah kanan. Sekitar 10 meter kemudian ia menemukan pintu dengan papan bertuliskan “Kim Joon Myeon” di bagian atas tulisan “Huang Zi Tao” di sebelah kanan. Irene mengetuk dan menunggu beberapa saat sebelum ia masuk setelah mendengar jawaban dari dalam.
“Annyeonghaseyo. Maaf menggangu.” Ucap Irene setelah menutup pintu dan menunduk hormat. Sikapnya yang dingin berubah menjadi hangat di depan Suho.
“Ne, annyeonghaseyo.” Suho berdiri kemudian balas membungkuk. “Apa anda sudah membuat janji? Maaf tapi saya tidak ingat memiliki janji hari ini.” Suho terdiam menatap wanita di depannya.
“Kau… wanita kami.” Suho terbata-bata.
“Ne? Ahh apa para pihak kepolisian menyebut saya begitu? Maaf saya merepotkan. Nama saya Irene. Terima kasih telah menyelamatkan saya.” Irene sedikit salah tingkah. Ia sama sekali tak menyangka Detektif Kim semuda dan setampan ini.
“Ahh mianhe, Irene-sshi. Silahkan duduk.” Suho kembali duduk dengan sedikir canggung.
Hampir setiap hari Irene datang ke Kantor Suho untuk sekedar mengantar makan siang atau bercakap-cakap dengan Suho. Bahkan mereka mulai menggunakan bahasa informal. Suho semakin semangat bekerja ketika Irene berada di sekitarnya. Suho benar-benar telah jatuh sedalam-dalamnya di pesona Irene. Intensitas perhatian yang Suho berikan kepada Irene melebihi perhatian yang ia berika kepada Joo In. Awalnya Joo In sempat merasa keberatan. Namun setelah mengetahui Irene luar dalam yang tanpa cela, Joo In mundur teratur mengikhlaskan oppa-nya.
“Hyung, apa kau tak merasa curiga pada gadis itu?” Ucap Tao ketika ia mendapat kesempatan berdua dengan Suho ketika makan siang.
“Nugu? Irene? Ani. Apa yang kau curigai darinya?” Jawab Suho sambil menggigit hotdog yang diulurkan Tao.
“Apa kau tidak berpikir bahwa ia sedikit aneh? Untuk apa ia kabur dari rumah sakit waktu itu jika pada akhirnya ia kembali kepadamu?” Tao menjabarkan. “Dan dia datang kepadamu. Bukan kepadaku. Itu benar-benar aneh.” Tambah Tao.
“Apanya yang aneh? Aku jauh lebih mapan darimu. Sesuatu yang paling dicari wanita saat ini.” Suho menyombongkan dirinya.
“Tak ada bukti yang menguatkan opinimu, Detektif Kim. Tapi aku memiliki banyak bukti dalam hal ini. Huang Zi Tao, penakluk wanita.” Tao mengedipkan sebelah matanya.
“Dasar playboy.” Suho meremas kertas pembungkus hotdognya yang tinggal setengah dan melemparnya ke arah Tao. Kemudian mereka tertawa tanpa mengetahui ada satu pasang mata mengawasi.
Keesokan harinya, Kantor Kepolisian Seoul terlihat sangat sibuk. Suho bersama beberapa kepala detektif sedang mendiskusikan sesuatu dengan sangat serius di ruang rapat. Tao dan beberapa detektif yang lain sibuk mencari data dan mempersiapkan dokumen yang mendukung proses rapat. Mereka berusaha menuntaskan kasus Narkoba dan Penjualan Manusia itu secepat mungkin, mengingat keberadaan mereka sangat meresahkan masyarakat ahkir-akhir ini. Di saat yang tidak tepat itu, Irene datang dengan keanggunan yang akhir-akhir ini menghiasi lobi Kantor Kepolisian.
“Good morning, Seo Yeon-sshi.” Ucap Irene ketika sampai di depan meja resepsionis. Wajah angkuhnya berubah menjadi senyum manis ketika menyapa Seo Yeon yang telah sering bertemu dengannya dan cukup akrab untuk tidak berbasa-basi.
“Eoh, Irene-sshi. Mencari Detektif Kim?” Seo Yeon segera membalas senyum Irene semanis mungkin.
“Eoh. Apa Detektif Kim sedang free?” Irene menjawab dengan wajah berbinar.
“Emm.. Mianhae, Irene-sshi. Sepertinya kau akan sulit menemuinya hari ini. Ada kasus besar yang harus diselesaikan. Kasus Narkoba dan Penjualan Manusia, sepertinya.” Ada raut menyesal di wajah Seo Yeon.
“Tapi ini menjelang waktu makan siang. Apa mereka akan melanggar waktu makan siang untuk rapat itu?” Ada ekspresi aneh di wajah Irene yang sempat disadari Seo Yeon sebelum wanita itu mengembalikan wajah malaikatnya.
“Entahlah. Kau bisa menunggu di dalam sini. Ruangan ini cukup dapat menghindarkanmu dari tatapan orang-orang yang mengagumimu. Kau pasti merasa tidak nyaman kan?” Seo Yeon membuka pintu kecil di sebelah kiri meja besar yang mengepungnya.
“Eoh. Gomawo. Aku tidak akan mengganggumu.” Janji Irene.
“Aku akan mengambil kopi untuk kita. Tunggu di sini sebentar.” Setelah mendapat persetujuan dari Irene, Seo Yeon segera meninggalkan posnya dan berlari-lari kecil menuju dapur.
Seo Yeon berjalan perlahan karena sekarang ia membawa dua gelas penuh kopi di kedua tangannya. Dari kejauhan Seo Yeon dapat melihat Irene berbicara dengan seseorang di telepon dengan mimik wajah serius. Namun saat Seo Yeon mendekat, Irene segera mematikan teleponnya dengan gerakan terburu-buru anggun yang berusaha disembunyikan.
“Nugu?” Tanya Seo Yeon penasaran sambil meletakkan salah satu gelas kopi di depan Irene.
“Detektif Kim. Sebentar lagi ia akan keluar.” Ucap Irene sambil lalu kemudian ia menyesap kopinya dan merapatkan jasnya.
“Hari ini sangat dingin. Gomawo Seo Yeon-sshi.” Ucapan Irene mengalihkan perhatian Seo Yeon dari rasa penasarannya.
“Eoh. Tetapi berani bertaruh di dalam sana sangat hangat bahkan cenderung panas. Sejak pagi tadi semua anggota kepolisian dipaksa berangkat seluruhnya.” Seo Yeon menggeleng pelan.
“Apa yang terjadi?” Tanya Irene sambil lalu.
“Sepertinya kami berhasil melihat ekor mereka.” Seo Yeon menekankan kata pertama. 
Irene yang sempat terkejut dengan segera mengganti ekspresinya. Meski hanya terjadi dalam waktu sepersekian detik, Seo Yeon masih bisa menangkap ekspresi itu. Belum sempat ia bertanya, Suho telah berlari ke arah ruang tunggu.
“Detektif Kim.” Sontak Seo Yeon berteriak sebelum Suho terlalu jauh. Bersama itu juga Irene ikut berdiri dan setelah Suho berbalik ke arah mereka ia ikut berteriak, “Oppa!!” Hampir seisi ruangan termasuk Seo Yeon menoleh dan terkejut. Mereka tak menyangka hubungan Suho dan Irene telah sedekat itu. Irene yang menyadari kebodohannya segera menutup mulut dengan jarinya dan tersipu. Sedangkan Suho malah tersenyum dan mengabaikan banyaknya pasang mata yang memandangnya.
“Oppa?” Seo Yeon memiringkan kepalanya dan tersenyum.
“Mungkin kau salah dengar Seo Yeon-sshi.” Irene menutup mukanya dan menjatuhkan dirinya kembali ke kursi saking malunya dan tanpa sengaja menyenggol kopi yang tinggal setengah di atas meja di depannya dan menyiram dirinya sendiri. Panasnya kopi membuatnya refleks berteriak. Dan teriakkannya membuat Seo Yeon releks membungkuk membantunya. Hal itu membuat Suho mempercepat langkahnya menuju resepsionis.
“Wae? Wae?” Tanya Suho panik. Namun yang ditemukannya di balik meja tinggi itu lebih mengejutkannya. Kedua gadis itu tertawa.
“Aku menyiram diriku sendiri.” Ucap Irene sambil menunjuk bagian depan tubuhnya.
“Aku tau kau merasa dingin, Irene-sshi. Tapi ini berlebihan.” Seo Yeon menimpali di sela-sela tawanya yang manis.
“Bagaimana itu bisa terjadi?” Mau tak mau Suho ikut tertawa mendengar Irene tertawa.
“The power of ‘Oppa’.” Seo Yeon mengejek Irene.
“Geumanhae, Seo Yeon-sshi.” Wajah Irene yang putih berubah menjadi kepiting rebus.
“Ahh..Geurogeuna. Kemarilah! Oppa akan membantumu.” Kata-kata Suho membuat Irene semakin memerah.
“Hajima! Tau begini aku tak akan menghubungimu.” Irene menutupi wajahnya hingga suaranya tersamar dan menyerupai bisikan.
“Jangan seperti itu, Irene-ahh. Aku langsung lari ke sini setelah membaca pesanmu.” Suho membantu Irene berdiri dan membawakan tasnya. Sepertinya rasa malu membuat tenaga Irene terkuras.
“Ahh jongmal!!” Irene memukul pelan dada Suho.
“Kami permisi, Nona Yoon.” Ucap Suho seraya merangkul pundak Irene menjauh. Tawa tak lepas dari bibirnya sedikitpun, memperlihatkan giginya yang putih tak bercela.
“Ne.” Seo Yeon kehilangan tawanya ketika mereka berdua telah pergi.
“Apa aku tadi mendengar Detektif Kim mengatakan ‘pesan’ bukan ‘telepon’?” Seo Yeon berpikir cukup lama lalu memilih melupakannya. “Mungkin pesan suara.” Katanya mengibaskan tangan.
Di sepanjang jalan menuju ruangannya, Suho masih terus mengolok-olok Irene. Sementara posisi mereka yang nyaris berpelukan menimbulkan pandangan iri yang bahagia di mata anggota kepolisian lain. Dua hal itu membuat Irene bertambah merah merona. Suho melewati Tao dan mengedipkan sebelah matanya tanpa sepengetahuan Irene. Tetapi Tao mengabaikannya. Ia tahu Suho hanya berniat mengejeknya yang belum ada perkembangan dengan Yoon Seo Yeon.
Suho membiarkan Irene duduk di kursinya karena tempat itu paling dekat dengan penghangat ruangan sedangkan ia menyandarkan dirinya di mejanya. Tao mudah merasa panas tanpa pemanas, sehingga alat itu disingkirkan sejauh mungkin darinya tetapi sedekat mungkin dengan Suho. Irene masih menundukkan wajahnya dan sekali-kali tangannya menyentuh pipinya.
“Apa kau masih merasa dingin?” Suho melipat lengannya di dada sambil memandangi Irene.
“Ani. Berkat dirimu. Gomawo.” Irene menekan tiap katanya sambil menyipitkan mata. Hal itu membuat Suho kembali tertawa dan membuat matanya menghilang.
“Seo Yeon bilang kalian sedang membahas kasus penting. Lalu kenapa kau menemuiku?” Irene berusaha mengalihkan perhatian ke hal yang lebih penting.
“Karena kau memintanya.” Suho tak memalingkan pandangan kagumnya dari Irene. Mata penuh cintanya terpaku pada Irene.
“Gomawo.. Bisakah kau serius?” Irene tersenyum lalu memutar bola matanya.
“Jinjja-ya.. Tapi itu alasan pertama.” Suho mengeluarkan tawanya lagi.
“Apa lagi?” Irene menuntut.
“Kasus ini melibatkanmu. Kau sangat berhak berada di sini. Kau salah satu saksi mata, ingat?” Jawab Suho kemudian.
“Ahh.. jadi karena itu.” Sebentar Irene menundukkan wajahnya sambil sedikit menahan tawa.
“Wae? Apa ada yang aneh?” Suho menyentuh wajahnya, mencari hal yang mungkin membuat Irene tertawa.
“Ani. Aku hanya berimajinasi.” Irene tersipu namun tersenyum miris.
“Imajinasi seperti apa? Apa kau pikir aku menemuimu karna aku merindukanmu?” Suho mendekatkan wajahnya ke wajah Irene membuat gadis itu menegang sejenak.
“A..a..ani. Kau terlalu percaya diri.” Irene memalingkan wajahnya yang mulai merona.
“Ahh.. begitu ya. Padahal itulah alasanku sebenarnya.” Kata Suho acuh tak acuh sambil menarik wajahnya lagi.
“Mwo?” Irene membulatkan matanya.
“Ani. Ayo cepat ke ruang rapat. Banyak yang menunggu kita.” Suho membukakan pintu untuk Irene kemudian menutupnya perlahan di belakangnya.
Ruang rapat yang tadinya ramai mendadak hening dan semua pandangan tertuju pada pasangan yang baru saja membuka pintu. Suho dan Irene sontak membeku. Beruntung Suho mendapatkan otaknya kemudian.
“Tuan-tuan, perkenalkan ini Nona Irene yang merupakan ‘korban tertinggal’ para buronan itu.” Suho menutup pintu di belakangnya sambil mendorong Irene pelan ke depan.
“Annyeonghaseyo, Irene imnida.” Wajah terkejut Irene telah berubah menjadi wajah dingin bake s yang dipahat dengan teliti dan sangat indah.
Setelah Suho dan Irene duduk salah seorang detektif mulai berkata, “Irene-sshi, bisa anda ceritakan segala sesuatu yang anda ingat? Apapun itu pasti akan membantu dalam penyelidikan kami.”
Rona pucat sempat tergambar di wajah es Irene. Namun ekspresi itu tertutupi dengan baik oleh dingin dan kakunya wajah Irene.

Continued in Chapter 4


Tidak ada komentar:

Posting Komentar